Tanjungpinang (ANTARA) – Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Eko Prasojo, menyatakan, jabatan eselon 3 hingga 5 di lingkungan pemerintahan akan dihapus.

“Penghapusan jabatan eselon 3,4 dan 5 di pemerintahan itu bertujuan mengoptimalkan kinerja PNS (pegawai negeri sipil)) dan juga menghemat anggaran,” kata Eko pada saat menjadi pembicara dalam seminar Reformasi Birokrasi, Selasa, di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.

Menurut dia, penghapusan jabatan tersebut bertujuan mengubah pola pikir PNS yang selama ini cenderung mengejar jabatan tanpa melaksanakan tugasnya secara maksimal. Pejabat yang memiliki sikap seperti itu tentunya merugikan pemerintah dan masyarakat.

“Mungkin ini bukan kabar baik bagi pejabat yang malas, karena mereka akan demam mendengarnya. Kebijakan itu bertujuan memperbaiki kinerja aparat pemerintahan yang selama ini kurang baik,” ungkapnya.

Menurut dia, penghapusan jabatan eselon 3,4 dan 5 juga diikuti dengan penghapusan tunjangan. PNS akan diberikan tunjangan sesuai dengan kontribusi yang diberikannya dalam melaksanakan tugas.

“Mekanisme telah kami atur dan saat ini payung hukumnya masih dibahas DPR,” katanya.

Sementara pejabat eselon 1 dan 2 akan ditetapkan sebagai aset negara. Mereka harus bersedia mengabdi di seluruh daerah.

“Pejabat eselon 1 dan 2 harus bersedia dipindahkan ke mana saja,” ujarnya. baca selanjutnya…



Liputan6.com, Jakarta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern, Swiss, membeberkan misteri Yayasan New7Wonders, penyelenggara tujuh keajaiban dunia yang di antaranya menomisasikan Taman Nasional Komodo. Bahkan, Duta Besar RI di Swiss Djoko Susilo menegaskan bahwa pihaknya meragukan Yayasan New7Wonders

“Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern, Swiss, merasa perlu untuk memberikan penjelasan sebagai berikut,” kata Djoko dalam surat elektronik bertanggal 31 Oktober 2011. Dan inilah kronologi yang dimaksud Djoko.

1. Desember 2007, N7W mengumumkan peresmian kampanye. Pada tahap awal terpilih tiga destinasi wisata Indonesia dan yang masuk nominasi adalah Taman Nasional Komodo, Danau Toba, dan Anak Gunung Krakatau, bersama dengan 440 nominasi dari 220 Negara.

 

2. Agustus 2008, Indonesia mendaftar sebagai OSC dan membayar biaya administrasi masing-masing destinasi USD 199.

3. Pada 21 Juli 2009, Taman Nasional Komodo menjadi Indonesia National Nominees dan menjadi salah satu dari 28 nominasi finalis.

4. Februari 2010, pihak N7W menawari Indonesia untuk menjadi tuan rumah deklarasi N7W yang akan dilaksanakan pada 11 November 2010.

5. Setelah menjajaki dan beberapa kali mengadakan pertemuan, pada 25 November 2010 Indonesia menyatakan berminat menjadi tuan rumah.

6. Pada 6 Desember, pihak N7W menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah dengan liscense fee sebesar 10 juta dolar AS.

7. Pada 29 Desember 2010, N7W  mengeluarkan ancaman melalui Kepala Komunikasi N7W Eamon Fitzgerald yang memberikan batas waktu sampai 31 Januari 2011 kepada pemerintah Indonesia, untuk menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah. Jika sampai batas waktu itu tidak ada ketegasan, maka N7W akan menangguhkan status Taman Nasional Komodo sebagai finalis N7W.

8. Todung Mulya Lubis, kuasa hukum Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (dahulu Kembudpar) RI, pada 2 Februari 2011 melayangkan surat elektronik kepada N7W dan memprotes rencana eliminasi TNK sebagai finalis. Lima hari kemudian, surat itu ditanggapi pengacara N7W yang beralamat di London. Isinya, TNK tidak tereliminasi, melainkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenbudpar) tak lagi bisa menjadi official supporting committee (OSC). baca selanjutnya…



PACITAN, KOMPAS.com — Permukaan tanah di Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, retak. Bersama retakan, beberapa hari ini muncul semburan asap mirip gas yang mengeluarkan hawa panas dan rawan terbakar. Pemerintah Kabupaten Pacitan menetapkan lokasi itu sebagai zona rawan dan meminta masyarakat berhati-hati.

Retakan tanah ditemukan di ladang di Dusun Dondong, Desa Gemaharjo. Lokasi retakan berada sekitar 3 meter di dekat menara pemancar milik salah satu operator seluler. Pengamatan pada Selasa (18/10/2011) menunjukkan, retakan berbentuk empat persegi dengan ukuran 3 meter x 3 meter.

Retakan mengakibatkan tanah ambles sedalam 30 sentimeter, dan meninggalkan lubang rekahan dengan kedalaman yang sulit diukur. Dari sejumlah warga yang mencoba memasukkan kayu ke dalam rekahan, kedalaman diperkirakan lebih dari 5 meter.

Yatno (31), penggarap ladang, mengatakan, retakan diketahui pada Sabtu pagi pekan lalu. Ketika itu ia sedang mencangkul tanah untuk persiapan menanam jagung dan ketela pohon. Tiba-tiba tanah yang ia olah ambles dan meninggalkan retakan.

Belum hilang rasa kaget Yatno, tiba-tiba sebuah pohon pisang yang berada di dekat lokasi tanah retak, ambruk seperti tercabut dari akarnya. Pohon itu jatuh menimpa tanah yang ambles, dan herannya pohon pisang itu langsung gosong dan mengeluarkan asap seperti terbakar.

Tanah yang ambles itu terasa panas. Pada waktu pagi dan sore hari keluar air seperti embun trus keluar asap. Waktu anak-anak menaruh kertas di atasnya, kertas itu langsung terbakar. “Tadi pagi waktu dipakai memasak air juga sampai mendidih,” ujar Yatno.

Pengamatan menunjukkan, tanah yang ambles itu mengeluarkan bau gosong seperti ada aktivitas pembakarannya di dalamnya. Saat permukaan tanah yang ambles itu digali, dari dalam tanah keluar butiran-butiran berwarna hitam seperti arang , yang apabila dipegang, terasa panas. Butiran berwarna hitam itu juga mengeluarkan asap tipis. baca selanjutnya…


RCB FM Radionya Pacitan