Memahami ‘Sunnatullah’ di Jepang

Pada tanggal 1-9 agustus 2015, kami bersama istri dan rombongan dari sekolah al-Falah Cibubur dengan diantar oleh Ibu Zizi dari Diniah Putri padang panjang mengadakan kunjungan ke beberapa kota di jepang. Tujuan utamanya adalah untuk melihat secara langsung bagaimana orang Jepang menjalani kehidupannya sehingga menjadi sangat maju dan apa rahasia mereka bisa begitu cepat bangkit setelah perang dunia II yang menghancurkan mereka.

Dengan pesawat bernomor SQ-967 kami take-off dari bandara Soekarno Hatta Jakarta, menuju kota Fukuoka, yang sebelumnya transit beberapa saat di bandara Changi Singapura untuk ganti pesawat yang akan membawa kami menuju Fukuoka.

Sampai di Fukuoka di bagian imigrasi, kami sudah merasakan keramahan khas orang Jepang, kami disambut anak-anak muda berseragam yang mengarahkan kami dengan ramah di barisan mana yang yang lebih cepat agar pasport kita distempel.

Tidak sempat untuk istirahat, kami langsung menuju tujuan. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Fukuoka Disaster Prevention Centre (Pusat penaggulangan bencana). Di setiap kota di Jepang ada semacam pusat penangglangan bencana. Dan karena bulan Agustus adalah saat libur sekolah, maka situasinya sangat ramai dengan kehadiran anak-anak khususnya usia TK dan SD yang diantar oleh orang tuanya, untuk belajar apa yang harus dilakukan apabila terjadi bencana. Teringat akan satu ayat: “Tidak ada satu pun bencana yang menimpa kecuali atas izin Allah ” (64: 11). Di balik aneka bencana yang sering terjadi di Jepang, membuat mereka begitu serius dalam menghadapi bencana. Bahkan sejak dini mereka sudah diajarkan.

Selanjutnya kami menuju Family Farm, melihat bagaimana mereka bercocok tanam dan makan dari hasil pertanian yang tidak tersentuh zat kimia. Pemandu kami, Ibu Taki menjelaskan untuk urusan makanan di Jepang sangat ketat. Kami teringat pesan al-Qur’an: “Makanlah makanan yang halal lagi baik” (2: 168). Mungkin yang kita makan adalah makanan halal, tetapi kebanyakan tidak thoyyib. Dan itulah penyebab aneka penyakit mudah menyerang.

Di hari ke-3, dengan menggunakan transportasi Bus, kami menuju kota Kitakyushu. Melihat beberapa obyek ecotown. Kota ini pada 50 tahun yang lalu tercatat sebagai kota paling kotor dan polutif. Saking kotornya, bahkan bakteri pun tidak bisa hidup. Atas kemauan warga dan dukungan pemerintah, Kitakyushu menjelma menjadi kota terbersih di Jepang, bahkan hingga tingkat dunia.

Teringat ayat: “Allah mencintai orang yang bertobat dan membersihkan diri” (2:222), juga ungkapan “kebersihan sebagian dari iman”. Tapi mengapa kita di Indonesia begitu sulit sekali untuk hidup bersih, baik di tempat umum, sekolah bahkan tempat ibadah/masjid, sulit sekali untuk bersih. Padahal sepengetahuan kami, orang Jepang tidak tahu ayat suci, sedangkan kami sudah hafal di luar kepala, ada apa dengan umat ini?

Pada hari ke-4 kami menuju kota Yamaguchi dan Hiroshima. Melihat musium Perang Dunia II dan belajar bagaimana orang Jepang bangkit dari kehancuran. Kaisar Hirohito, bertanya kepada para pembantunya tidak lama setelah perang usai, “Berapa guru yang tersisa yang kita miliki”?. Ini adalah pertanyaan visioner, betapa mereka memandang pendidikan adalah segala-galanya. Teringat akan wahyu peratma yang berbunyi Iqra‘ (bacalah). Al-Qur’an menempatkan pendidikan juga segala-galanya sebagai yang utama bahkan sebelum perintah yang lain. Mestinya investasi terbesar umat kalau mencapai peradaban adalah pendidikan yang berkualitas dan adil. Ah, ini mungkin baru mimpi kalau bukan utopia.

Dari Hiroshima menuju Nagoya dengan kereta Shinkansen. Di dalam kereta kami belajar banyak tentang tradisi mereka. Situasi yang tenang, karena dilarang mengeraskan dering ponsel, semua serba teratur, mekanistis dan tentu saja: bersih.

Setelah sejenak melihat musium Toyota di Nagoya, kemudian rombongan kami menuju ke kota Fujioshida dan perjalanan terakhir di Tokyo. Naik MRT (Mass Rapid Transporation) merasakan Rush Hour (jam padat) di Tokyo yang serba cepat, bahkan cenderung serba tegang. Dan itulah yang mungkin sisi lain dari orang Jepang -yang kalau boleh disebut kekurangannya- yaitu kurang memberi ruang spiritual. Dan di sisi ini, kami merasa bersyukur untuk menghibur diri, memang belum seperti mereka, namun kami juga tetap bisa menjalani hidup bahagia dengan keadaan kami di Indonesia.

Alangkah dahsyatnya apabila umat ini yang oleh al-Qur’an disebut khoiru ummah (sebaik-baik ummat) dapat menerapkan sunnatullah dalam kehidupan sosial dan terus menguatkan aqidah dan keyakinan kepada Allah swt.
[Dr. Ali Nurdin, MA. – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]

Sumber: http://alifmagz.com/?p=31281

Komentar