Jakarta – Aparat Kepolisian Polsek Metro Tambora masih mengejar 6 orang pelaku penculikan terhadap pelajar SMA kelas 3, Hans Cristian (17). Hans diculik seusai pulang bimbingan belajar di Jembatan Dua, Tambora, Jakarta Barat.

“Kita masih mengejar pelaku,” ujar Kanit Reskrim Polsek Tambora, Iptu Robinson Manurung saat dihubungi wartawan, Selasa (20/7/2010).

Sampai saat ini polisi belum mengantongi identitas pelaku. Motif penculikan sendiri diduga pemerasan, karena pelaku meminta uang tebusan. Menurut Manurung, diduga pelaku tidak kenal dengan keluarga korban.

“Pelaku dengan korban tidak saling kenal,” imbuhnya.

Menurut Manurung, setelah si anak kembali, ayah korban, Sumanto (47) langsung melaporkan kejadian ini, polisi langsung bergerak cepat membawa Hans untuk memberikan petunjuk kemana saja dia dibawa berputar-putar oleh pelaku.
baca selanjutnya…



Jakarta – Kuasa hukum Anggodo Widjojo, OC Kaligis, mengatakan mantan ketua KPK Antasari Azhar akan hadir dalam persidangan kliennya. Namun hal itu dimentahkan oleh pihak Antasari.

“Pak Antasari menyampaikan tidak benar bersedia menjadi saksi kasusnya Anggodo,” kata kuasa hukum Antasari, Ari Yusuf Amir, kepada detikcom, Selasa (20/7/2010).

“Apa kepentingannya menghadirkan dia (Antasari),” lanjutnya.

Ari menjelaskan, pada minggu lalu OC Kaligis memang bertemu dengan Antasari di tahanannya. Namun kala itu tujuan kedatangan hanya memberi bukunya tentang Chandra-Bibit.

“Selama pertemuan tersebut tidak dibicarakan kesaksian Pak Antasari,” jelasnya

Tetapi, menurut Ari, Antasari tetap akan datang ke meja hijau bila yang memanggilnya adalah KPK atau pengadilan. Saat ditanya materi pertemuan Antasari dengan OC Kaligis, Ari mengatakan hanya bicara ringan.

“Ngomong-ngomong biasa, nanya kabar perkembangan KPK. Yang umum-umum saja,” terangnya.

Sebelumnya OC Kaligis mengatakan Antasari akan menjadi saksi kasus kliennya. OC Kaligis mengaku telah mendapat konfirmasi langsung dari Antasari ketika menjenguknya.

Sumber: detiknews.com



Jakarta – Penjudi asal Indonesia tercatat menempati peringkat 3 besar di Singapura. Namun hal ini dinilai bukan alasan untuk melegalkan judi di Indonesia.

“Jangan berpikir untuk melegalkan judi di Indonesia,” ujar Ketua Forum Warga Jakarta (Fakta) Azas Tigor Nainggolan kepada detikcom, Jumat (1/7/2010).

Menurut Tigor, melegalkan judi sama artinya dengan melegalkan pembiusan. Membuat orang bermimpi mendapatkan uang berkali-kali lipat, namun sebenarnya justru membuat orang tersebut lebih sengsara.

“Bayangkan saja, nanti pengangguran tidak punya uang, berfikir modal berjudi 10 bisa dapat 1.000. Bukannya cari kerja malah menghabiskan waktu dan uang di tempat judi,” bebernya.
baca selanjutnya…



Jakarta – Bukan rahasia lagi kalau budaya Indonesia sudah mendunia. Para bule di mancanegara pun gemar menonton dan mempelajari budaya lokal. Salah satunya adalah Sumunar, grup gamelan dan tari yang bermarkas di Minnesota, Amerika Serikat.

Misi Sumunar adalah untuk mempromosikan pengetahuan dan apresiasi musik, tari dan budaya Indonesia melalui pertunjukan dan pembelajaran. Dengan menggunakan nama yang berbeda, Sumunar telah menjalankan aktivitasnya selama 14 tahun.

“Selama tiga tahun terakhir, jumlah orang yang belajar atau pun menonton mencapai lebih dari 25 ribu orang,” ujar Tri Sutrisno dalam keterangannya pada detikcom, Jumat (2/7/2010).

Tri dan suaminya, Joko Sutrisno, menjadi pengajar di grup ini. Tri mengajar tari-tarian, dan Joko mengajar gamelan. baca selanjutnya…



Jakarta – Usulan melokalisir arena judi di Indonesia disambut baik kriminolog Universitas Indonesia (UI) Prof Adrianus Meliala. Melokalisir judi tidak akan berdampak banyak terhadap kalangan bawah, karena hanya kalangan masyarakat atas yang dapat masuk dalam kawasan tersebut.

“Dampak kriminalnya jauh lebih kecil ketimbang menghandapi orang-orang kecil yang bermain judi,” tutur Adrianus saat berbincang dengan detikcom, Jumat (2/7/2010).

Adrianus menyatakan, bermain judi di lokalisasi judi merupakan gaya hidup orang kaya, jadi masa bodo amat kalau orang kaya itu bangkrut. “Kalaupun bangkrut tidak terlalu berpengaruh,” katanya.

Adrianus mencontohkan pola yang ada di kawasan judi di Las Vegas di mana setiap penjudi diwajibkan untuk mendepositkan sejumlah uang, sekitar Rp 50 juta.

“Siapa yang punya uang segitu kalau bukan orang kaya, hal seperti itu tidak bisa dilakukan oleh masyarakat di kalangan bawah,” tuturnya. baca selanjutnya…


RCB FM Radionya Pacitan