Puasa Mengasah Aneka Kecerdasan

Oleh: Prof. Dr. KH. M. Quraish Shihab

Puasa bermula dengan tidak makan, tidak minum, dan tidak bercampur dengan pasangan sejak terbit hingga terbenamnya matahari. Tetapi, ia seharusnya berakhir dengan tecerminnya semua sifat Allah―kecuali sifat Ketuhanan-Nya―dalam kepribadian seseorang karena berpuasa adalah upaya meneladani sifat-sifat Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia sebagai makhluk.

Dengan sifat-Nya ar-Rahmân (Pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini) yang berpuasa melatih diri memberi kasih kepada semua makhluk, tanpa kecuali. Dengan sifat-Nya ar-Rahîm (Pelimpah rahmat di hari kemudian) ia memberi kasih kepada saudara-saudara seiman dan meyakini bahwa tiada kebahagiaan, kecuali bila rahmat-Nya yang di hari akhir itu dapat diraih. Dengan sifat al-Quddûs (Mahasuci) yang berpuasa menyucikan diri―lahir dan batin―serta mengembangkan diri sehingga selalu berpenampilan indah, baik, dan benar. Dengan meneladani sifat-Nya al-‘Afuw (Maha Pemaaf) seseorang akan selalu bersedia memberi maaf, sedang dengan meneladani sifat al-Karîm (Maha Pemurah) seseorang akan menjadi sangat dermawan, demikian seterusnya.

Dengan upaya meneladani sifat-sifat Tuhan, seorang yang berpuasa melatih dan mendidik dirinya untuk meraih aneka kecerdasan, melalui potensi–potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia adalah kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional. Continue reading

Mahfud MD Mimpikan Muktamar NU Seperti Era Hadratussyaikh

Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Moh Mahfud MD mengaku sering membayangkan Muktamar NU mendatang seperti pada era Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari dan generasi sesudahnya, serta beberapa generasi setelah itu.

“Mereka kan tidak pernah pada rebutan,” ujar mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini di hadapan peserta diskusi bulanan bertema “Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama: Muktamar Bersih” yang digelar MMD Initiative di Hotel Sofyan Cikini Jakarta, Senin (30/03) malam.

Meski demikian, Mahfud menilai persaingan dalam muktamar sah-sah saja. “Sekarang, tentu bersaing itu boleh tetapi tentunya tidak dalam konteks menjadikan NU itu sebagai kendaraan politik, tetapi sebagai kendaraan untuk memperjuangkan nilai-nilai dasar Ke-NU-an. Sesuai dengan dasar NU itu sendiri,” tegasnya.
Continue reading

Khilafah dalam Pandangan NU

Setelah Khilafah Turki Utsmani berakhir pada 3 Maret 1924, beberapa kalangan menilai peran Islam dalam pentas politik global selama lebih dari 13 abad juga berakhir. Dan keberadaan umat Islam mulai saat itu telah terpuruk, baik dalam bidang politik, ekonomi, militer, budaya, sains-teknologi maupun yang lainnya.

Selain itu, “penjajahan modern” yang dilancarkan Barat terhadap dunia Islam disinyalir kuat menjadi faktor terpenting yang membangkitkan eskalasi “kerinduan” beberapa kelompok umat Islam terhadap sistem Khilafah Islamiyah yang pernah mengantarkan kejayaan Islam di masa silam. Maka, sejak saat itulah term “khilafah” menjadi isu harakah (pergerakan) Islam dengan misi dan agenda politik membangun kembali Daulah Islamiyah internasional.

Dalam dinamika perjuangannya, ide khilafah internasional ini pertama kali diperankan oleh jamaah Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir pada tahun 1928, dan selanjutnya banyak dimainkan oleh jamaah Hizbut Tahrir yang didirikan di Jerusalem Timur tahun 1952. Dan baru-baru ini juga digaungkan oleh Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) di Irak dan Syiria. Continue reading